Tititit….tititit ….tititit……jam beker berdering, pertanda jam 4 pagi. Seperti biasanya hari Sabtu pagi ada Kultum Subuh di masjid dekat rumahku, lebih kurang 250 meter dari rumah. Aku segerakan keluar dari kamar, sepeda ku sudah melirik dan tersenyum dengan ku seakan dia tau bahwa aku akan mengajaknya ke masjid. Biasa, sambil pakai sarung gowes sepeda ku menuju masjid. Teman-teman ku di masjid pada umumnya umur-umur pensiunan pegawai negeri, anak mudanya hampir tidak pernah aku temui, kecuali dua orang penjaga masjid, yang umurnya masih belasan tahun.
Setelah sholat subuh selesai, Pak Ustad nya simpun-simpun laptop dan projectornya. Satu orang asistennya mendampingi menjadi operator slide nya. Selalu, disaat pembukaan bapak itu berkata, “Berulang-ulang saya sampaikan bahwa saya bukan ustad. Penyampaian materi ini hanya untuk berbagi informasi (sharing). Materinya adalah mengkaji beberapa ayat Al Quran dengan topik-topik khusus. Tujuannya agar kita bersama-sama berharap mendapatkan keberkahan hidup dengan tekad untuk memahami kandungan Al Qur’an dan menjadikannya pedoman dalam amalan sehari-hari.”
Topik kultum pagi itu adalah membahas ayat-ayat yang berhubungan dengan sifat bawaan manusia yang kikir. Ada beberapa ayat yang dibahas oleh bapak itu, diantaranya: QS. al-Ma’arij (70) : 19-21. “Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir.” Demikian penggalan artinya.
Ayat diatas sangat jelas Alloh sendiri yang mengatakan bahwa kita diciptakan dengan membawa atribut kikir. Tetapi rupanya, diayat lainnya (saya lupa mencatat ayat tersebut) Alloh juga mengatakan bahwa jika kita mampu menepis kekikiran kita kita masih bisa jadi golongan manusia yang beruntung. Dan Setan yang selalu membisikan jiwa kita untuk tetap bersifat kikir.
Contohnya, suatu ketika jiwa kita sudah mengatakan pada alam sadar kita bahwa jum’at ini aku akan kasih infaq/tromol masjid Rp 100.000; rupanya sepanjang jalan menuju masjid, ada bisikan setan yang mengatakan “ah, kebanyakan kamu ngasih 100 ribu, 10 ribu aja, uangmu akan cepat habis bulan ini, kamu harus nunggu gajian masih 20 hari lagi, ayo 10 ribu aja, ngapain” . Dengan bisikan itu, niat awal Rp 100 ribu menjadi ternodai bahkan akhirnya dia berpikir ulang, “iya-ya, mungkin kali ini cukup 10 ribu aja, atau biarlah 50rb. Ah, udahlah 100ribu aja. Dia bimbang karena bisikan setan. Saat itu setan merasa kalah karena akhirnya orang itu mau infaq ke masjid Rp 100ribu.Sesampainya di masjid, orang itu sholat tahiatul masjid dan akhirnya duduk dengan rapi. Sambil liat kekanan dan kekiri, dan berkata dalam hati, wah kotak tromolnya sudah lewat dari barisanku. Ya sudah lah, aku tidak usah masukan infaq toh kotaknya sudah lewat. Beberapa menit kemudian, orang itu bergumam lagi, ah tadi kan aku sudah niat, nanti pulangnya aku akan cari dimana kotak itu, sambil ragu ah, minggu depan aja deh. Sampai waktu sholat jum’at selesai orang itu tidak lagi mencari kotak tromolnya karena niat itu diurungkan untuk minggu depan saja. Rupanya, setan tadi belum kalah. Dia mencari cara lain agar orang itu mengurungkan niatnya berinfaq. Setan itu terbahak-bahak, dasar manusia bodoh!, katanya.
Contoh sehari-hari lainnya, dikala kita sedang dalam situasi kekurangan, tidak mood, tidak lapang, tau bahkan kita sedang punya agenda yang memerlukan banyak biaya, waktu dan tenaga, tiba-tiba datang seseorang meminta, mau pinjam uang, mau meminta atau meminjam sesuatu dari kita padahal pada saat itu kita sedang dalam situasi diatas. Disitulah Setan selalu mendekat dan membisikan kita supaya kita tetap jadi “manusia yang kikir”.
Kata bapak di mesjid tadi pagi, jika sewaktu-waktu ada fenomena seperti itu BERPIKIR POSITIF saja bahwa Alloh sedang menguji kita. Dengan BERPIKIR POSITIF semacam itu, insya Alloh kita akan terdorong untuk tidak kikir dan tidak berkeluh kesah. BERPIKIR POSITIF dengan sendirinya akan memberikan sugesti kedalam jiwa kita, sehingga jiwa kita selalu terbiasa pada hal-hal positif akan mengarah pada amal-amal kebaikan. Ingat yang akan mempertanggung jawabkan amal baik dan amal keburukan kita di hadapan Alloh adalah JIWA kita bukan JASAD kita. Karenanya, BERPIKIR POSITIF selalu membawa acuan pada kita untuk membentuk PIKIRAN – YANG JERNIH ; HATI – YANG BENING dan PERILAKU – YANG INDAH. Kalau kalimat yang terakhir ini aku ambil dari pesan Pak Mario Teguh dalam tanyangan Metro TV beberapa minggu yang lalu (SQ).
